Header Ads Widget

Ini lah penyebab kekalahan napoleon bonaparte




Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis berpengaruh yang menaklukan hampir seluruh daratan Eropa akhirnya harus bertekuk lutut dalam pertempuran Waterloo pada Juni 1816

Sejarawan mencatata kondisi hujan dan berlumpur membantu tentara sekutu mengalahkan Bonaparte. Peristiwa kekalahan Bonaparte ini pada akhirnya mengubah jalanya sejarah Eropa

Namun siapa sangka, kondisi tak bersahabat yang dia alami Bonaparte di sebabkan oleh kekuatan alam yang berjarak ribuan kilometer. Tak lain adalah dampak dari erupsi gunung Tambora di pulau Sumbawa yang menewaskan sekitar 100.000 orang, dua bulan sebelum nya.

Dampak letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa memang luar biasa. Selain menewaska. Sekitar 100.000 orang, material vulkanik yang terlepas ketika erupsi juga mencapai langit Eropa, membuat benua itu mengalami tahun tanpa musim panas sepanjang 1816.

Dr. Mattew genge dari Imperial college London menemukan bahwa abu vulkanik bermuatan listrik akibat letusan itu dapat mengakibatkan terjadinya 'arus pendek' di listrik inosfer - tingkatan langit di atas atmosfer, di mana terjadi pembentukan awan.

Peristiwa ini kemudian menghasilkan hujan  lebat yang terjadi di seluruh Eropa dan menyebabkan kekalahan Napoleon. Temuan yang  dipublikasikan dalam jurnal Geologi, Rabu (22/8) ini mengkonfirmasikan adanya kaitan antara letusan dan kekalahan tentara Napoleon.
 
Dalam makalah nya, Dr. Genge menjelaskan letusan Tambora dapat menghempaskan abu ke atmosfer pada ketinggian yang lebih dari yang di perkirakan sebelumnya, yaitu bisa mencapai hingga 100 kilometer di atas tanah.

Pencatatan cuaca pada tahun 1815 bukan hal yang umum dan sangat jarang di lakukan. Jadi salah, salah satu refrensi yang ia pakai untuk menggambarkan keadaan cuaca pada saat pertempuran adalah dari novel Victor Hugo yang berjudul Les Mirables.

"Hugo bercerita tentang pertempuran Waterloo: ' langit yang sangat gelap tidak biasanya, cukup gelap untuk meruntuhkan dunia.' Sekarang kita selangkah lebat h dekat dalam memahami peran Tambora di pertempuran ini,"lanjutnya.

Untuk menguji teorinya, Dr. Genge juga memeriksa catatan cuaca tahun 1883 setelah terjadi letusan gunung api lainya di Indonesia, yaitu Krakatau. Data menunjukan suhu rata-rata jadi lebih dan berkurang nya curah hujan segera setelah letusan dimulai. Selain itu, curah hujan secara global juga lebih rendah selama letusan bila di bandingkan periode sebelum atau sesudah nya.

Posting Komentar

2 Komentar